Wacana ilmiah adalah wacana yang memiliki aturan baku dan sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa.  Contoh makalah, laporan tesis, skripsi, dan disertasi.
Contoh wacana ilmiah :

Aids
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah nama penyakit yang berarti sindroma dapatan penurunan kekebalan tubuh. Ada pula yang menyebutkan sebagai penyakit kurus karena penderitanya memang sangat kurus. Sebagai sindroma, gejala AIDS sangat banyak, antara lain diare lebih dari sebulan, demam lebih dari sebulan, dan menurunnya berat badan secara cepat. Dari ketiga gejala tersebut, yang terpenting adalah gejala menurunya berat badan. Tanda-tanda lain antara lain batuk lebih dari 2 minggu, pembengkalan kelenjar (di ketiak,leher,dan selangkangan), sakit kepala hebat dengan leher kaku, bengkak-bengkak cokelat tua yang cepat menyebar di kulit dan lain-lain.
AIDS disebabkan oleh virus yang hidup dalam darah dan cairan tubuh lainnya. Virus ini merusak system kekebalan tubuh sehingga tubuh tidak mampu lagi membentengi badan dari serangan berbagai penyakit. Setelah virus ini berada di dalam tubuh, ia bisa berada di sana bertahun-tahun sebelum mulai membuat orang itu sakit. Siapa saja bisa terkena AIDS, tidak peduli umur, suku, pekerjaan, maupun orientasi seksualnya, apabila seseorang pernah berhubungan seks dengan orang yang membawa virus AIDS, disuntik/menyuntik diri dengan jarum kotor, atau memperoleh transfuse darah yang terkontaminasi virus AIDS, maka ia juga dapat terkena AIDS. Begitu pula dengan bayi yang ibunya membawa virus AIDS.
Ada tiga cara penularan AIDS pada bayi yaitu ketika janin masih di dalam kandungan, pada saat dilahirkan yang penuh darah, dan melalui Air Susu Ibu. Meskipun begitu, tetap lebih baik menyusui dengan ASI daripada susu bubuk (baik karena kemungkinan tertulari AIDS secara matematis hanya 50%, maupun karena ASI mengandung banyak zat yang berguna bagi kekebalan bayi).
Dari semua kasus penderita AIDS yang berhasil sembuh, ada hal-hal penting yang bisa ditarik. Pertama, memang virus HIV sebagai penyebab utama, tapi juga bergantung pada kondisi fisik dan psikis masing-masing korban. Kedua, mereka yang berhasil lolos dari maut adalah mereka yang secara sadar mengubah gaya hidupnya menjadi lebih positif.

Wacana semi ilmiah adalah penulisan yang tidak terikat Bahasa Indonesa baku lisan, sehingga berkemungkinan besar terjadinya penghilangan kalimat. Tapi tidak mengurangi ciri bakunya, namun pemilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat mempengaruhi dalam memahami makna gagasan. Contoh atrikel, editorial.
Contoh wacana semi ilmiah dalam sebuah editorial

Kota kecil Concord di negara bagian Massachusetts, AS, melarang penjualan air minum dalam kemasan dengan satuan lebih kecil dari satu liter.

Aturan ini resmi berlaku mulai 1 Januari tahun ini setelah kampanye panjang selama tiga tahun untuk mengurangi tingkat buangan sampah plastik dan memasyarakatkan penggunaan air minum dari keran umum.

Pelanggar aturan ini mulanya hanya akan dikenai peringatan. Namun, siapa saja yang ketahuan menjual air kemasan untuk kedua kalinya akan didenda sebesar 25 dollar AS (Rp 241 ribu), kemudian meningkat jadi 50 dollar (Rp 482 ribu) untuk pelanggaran berikutnya.

Langkah semacam ini telah lebih dulu dilakukan oleh Dewan Kota Bundanoon di Australia yang melarang penggunaan air minum kemasan jenis apa pun sejak 2009.

Lebih dari 90 universitas di AS dan lainnya di seluruh dunia juga telah menerapkan kebijakan serupa. Begitu pula sejumlah pemerintah kota kecil berbagai negara.

Meski melarang penjualan air kemasan kapasitas kurang dari satu liter, kota Concord tidak menerbitkan larangan serupa untuk jenis minuman lain di luar air. Aturan ini juga boleh dilanggar jika dalam kondisi darurat.

Aturan mendesak

Menurut para pendukungnya, aturan semacam ini sangat mendesak karena warga Amerika menghabiskan 50 miliar botol air minum sepanjang tahun.

Sebaliknya, menurut industri botol kemasan air, benda berukuran kecil ini penting untuk memudahkan hidup manusia modern serta justru mendorong seseorang mengadaptasi gaya hidup lebih sehat.

Klaim ini dibantah Jean Hill, yang memimpin kampanye untuk mengurangi sampah palstik akibat botol air minum kemasan di Concord.  “Yang saya coba lakukan adalah menaikkan tekanan agar warga tidak membeli air minum botol hanya untuk sekali pakai,” ujarnya kepada koran New York Times.
“Untuk membantu agar orang berubah (dari gaya hidup itu), dibutuhkan kebijakan yang akan mencegah mereka membeli air minum kemasan serta mendorong berbagai alternatif bagus lainnya.”

Menurut sejumlah warga setempat, larangan ini tak ada gunanya karena mereka bisa dengan mudah membeli barang terlarang itu dari toko mana pun di kota-kota tetangga.

Wacana Non Ilmiah adalah penulisan yang tidak terikat dalam ragam bahasa baku. Contoh anekdot, opini, reportase, cerpen.
Contoh wacana non-ilmiah dalam sebuah cerpen

*Satu Orang Satu Pohon*
/*Cerpen Dewi Lestari*/

Ada yang tidak beres dalam perjalanan saya menuju Jakarta. Di sepanjang
jalan menuju gerbang tol Pasteur, saya melihat pokok-pokok palem dalam
kondisi terpotong-potong, tersusun rapi di sanasini, apakah ini jualan
khas Bandung yang paling baru? Sayup, mulai terdengar bunyi mesin
gergaji. Barulah saya tersadar. Sedang dilakukan penebangan pohon
rupanya. Dari diameter batangnya, saya tahu pohon-pohon itu bukan anak
kemarin sore. Mungkin umurnya lebih tua atau seumur saya. Pohon palem
memang pernah jadi hallmark Jalan Pasteur, tapi tidak lagi. Setidaknya
sejak hari itu.

Hallmark Pasteur hari ini adalah jalan layang, Giant, BTC, Grand Aquila,
dan kemacetan luar biasa. Bukan yang pertama kali penebangan
besar-besaran atas pohon-pohon besar dilakukan di kota kita. Seribu
bibit jengkol pernah dipancangkan sebagai tanda protes saat pohon-pohon
raksasa di Jalan Prabudimuntur habis ditebangi. Jalan Suci yang dulu
teduh juga sekarang gersang. Kita menjerit sekaligus tak berdaya.
Bukankah harus ada harga yang dibayar demi pembangunan dan kemakmuran
Bandung? Demi jumlah penduduknya yang membuncah? Demi kendaraan yang
terus membeludak? Demi mobil plat asing yang menggelontori jalanan
setiap akhir pekan? Beda dengan sebagian warganya, pohon tidak akan
protes sekalipun ratusan tahun hidupnya disudahi dalam tempo sepekan.

Pastinya lebih mudah menebang pohon daripada menyumpal mulut orang.
Seorang arsitek legendaris Bandung pernah berkata, lebih baik ia memeras
otak untuk mendesain sesuai kondisi alam ketimbang harus menebang satu
pohon saja, karena bangunan dapat dibangun dan diruntuhkan dalam
sekejap, tapi pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh sama besar.
Sayangnya, pembangunan kota ini tidak dilakukan dengan paham yang sama.

Para pemimpin dan perencana kota ini lupa, ukuran keberhasilan sebuah
kota bukan kemakmuran dadakan dan musiman, melainkan usaha panjang dan
menyicil agar kota ini punya lifetime sustainability sebagai tempat
hidup yang layak dan sehat bagi penghuninya. Bandung pernah mengeluh
kekurangan 650.000 pohon, tapi di tangannya tergenggam gergaji yang
terus menebang. Tidakkah ini aneh? Tak heran, rakyat makin seenaknya,
yang penting dagang dan makmur. Bukankah itu contoh yang mereka dapat?
Yang penting proyek ‘basah’ dan kocek tambah tebal. Proyek hijau mana
ada duitnya, malah keluar duit. Lebih baik ACC pembuatan mall atau trade
centre. Menjadi kota metropolis seolah-olah pilihan tunggal. Kita tidak
sanggup berhenti sejenak dan berpikir, adakah identitas lain, yang
mungkin lebih baik dan lebih bijak, dari sekadar menjadi metropolitan
baru? Saya percaya perubahan bisa dilakukan dari rumah sendiri, tanpa
harus tunggu siapa-siapa. Jika kita percaya dan prihatin Bandung
kekurangan pohon, berbuatlah sesuatu. Kita bisa mulai dengan Gerakan
Satu Orang Satu Pohon.

Hitung jumlah penghuni rumah Anda dan tanamlah pohon sebanyak itu. Tak
adanya pekarangan bukan masalah, kita bisa pakai pot, ember bekas, dsb.
Mereka yang punya lahan lebih bisa menanam jumlah yang lebih juga.
Anggaplah itu sebagai amal baik Anda bagi mereka yang tak bisa atau tak
mau menanam. Pesan moralnya sederhana, kita bertanggung jawab atas
suplai oksigen masing-masing. Jika pemerintah kota ini tak bisa memberi
kita paru-paru kota yang layak, tak mampu membangun tanpa menebang
pohon, mari perkaya oksigen kita dengan menanam sendiri.

Ajarkan ini kepada anak-anak kita. Tumbuhkan sentimen mereka pada
kehidupan hijau. Bukan saja anak kucing yang bisa jadi peliharaan lucu,
mereka juga bisa punya pohon peliharaan yang terus menemani mereka
hingga jadi orangtua. Mertua saya punya impian itu. Di depan rumah yang
baru kami huni, ia menanam puluhan tanaman kopi. Beliau berharap cucunya
kelak akan melihat cantiknya pohon kopi, dengan atau tanpa dirinya.
Sentimen sederhananya tidak hanya membantu merimbunkan Bukit Ligar yang
gersang, ia juga telah membuat hallmark memori, antara dia dan cucunya,
lewat pohon kopi. Kota ini boleh jadi amnesia. Demi wajahnya yang baru
(dan tak cantik), Bandung memutus hubungan dengan sekian ratus pohon
yang menyimpan tak terhitung banyaknya memori. Kota ini boleh jadi
menggersang. Jumlah taman bisa dihitung jari, kondisinya tak menarik
pula. Namun mereka yang hidup di kota ini bisa memilih bangun dan tak
ikut amnesia. Hati mereka bisa dijaga agar tidak ikut gersang.

Rumah kita masih bisa dirimbunkan dengan pohon dan aneka tanaman. Besok,
atau lusa, siapa tahu? Bandung tak hanya beroleh 650.000 pohon baru,
melainkan jutaan pohon dari warganya yang tidak memilih diam.

Sumber:
http://justfrisca.blogspot.com
http://internasional.kompas.com/read/2013/01/03/1335100/Sebuah.Kota.di.AS.Larang.Air.Kemasan
http://dyordan.wordpress.com/2011/10/09/wacana-ilmiah/
http://www.lokerseni.web.id/2011/07/cerpen-satu-orang-satu-pohon-karya-dewi.html