Image

Pengertian uang

 

R.J Thomas mengatakan bahwa “Money is something that is readily and generally accepted by public in payment for goods, services, and other valuabel assets and for the payment for debts.” Artinya, Uang adalah suatu benda yang dengan mudah dan umum diterima oleh masyarakat untuk pembayaran pembelian barang, jasa, dan barang berharga lainnya, dan untuk pembayaran utang. Sedangkan menurut Sir Dennis Holme Robertson “Money is something accepted in payment for goods.” Artinya, Uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan uang. Dari definisi kedua ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa uang adalah Alat tukar menukar barang / jasa  dan sebagai alat pembayaran yang sah.

 

Jenis uang

 

Jenis – jenis uang dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu :

  • Jenis Uang Berdasarkan Pihak yang Mengeluarkan

Berdasarkan Pihak yang Mengeluarkan, uang dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :

A.   Uang Kartal :

Uang Kertas atau Uang Logam yang dikeluarkan & diatur peredarannya oleh Pemerintah serta merupakan alat pembayaran yang sah.

B.  Uang Giral :

Alat Pembayaran berupa Cek, Bilyet Giro, dan sejenisnya yang dikeluarkan oleh Bank serta merupakan alat pembayaran.

  • ­ Jenis Uang Berdasarkan Bahan Uang

Berdasarkan Bahan, uang dapat dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :

A.   Uang Logam :

Uang yang bahannya terbuat dari logam berupa emas, perak, atau logam lainnya yang beredar sebagai alat pembayaran.

B. Uang Kertas :

Uang yang bahannya terbuat dari kertas serta penggunaanya diatur oleh undang – undang dan kebiasaan serta sebagai alat pembayaran.

  • ­ Jenis Uang Berdasarkan Negara yang Mengeluarkan

Berdasarkan Negara yang Mengeluarkan, uang dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :

A.   Uang Dalam Negeri :       

Uang yang dikeluarkan suatu Negara yang bersangkutan. Contohnya : Rupiah adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.

B.   Uang Luar  Negeri :

Uang yang beredar dalam suatu Negara, tetapi yang mengeluarkannya Negara lain. Contohnya : Yen(Jepang), Dollar(Amerika Serikat), Ringgit (Malaysia), Poundsterling(Inggris),dan sebagainya. Uang luar negeri disebut juga Valuta Asing.

  • ­ Jenis Uang Berdasarkan Nilai Uang

Berdasarkan Perbandingan Nilai Bahan dengan Nilai Tukar, Uang dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :

A.   Nilai Penuh :

Uang yang nilai bahannya (nilai Intrinsiknya) sama dengan nilai nominal atau nilai penuh yang terdapat pada standar emas. Misalnya 5 Gram emas, maka nilai uang itu dalam pertukaran juga seharga  emas 5 Gram.

B.   Nilai Tidak Penuh:

Uang yang nilai bahannya (nilai Intrinsiknya)lebih kecil daripada nilai nominalnya dan umumnya berupa uang kertas. Misalnya Uang yang kamu pegang Rp 10.000,- mungkin nilai bahannya hanya Rp 200,-.

 

SEJARAH UANG

 

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem’barter’yaitu barang yang ditukar dengan barang.

Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang; orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.

Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.

Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas

Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan ‘kertas-bukti’ tersebut sebagai alat tukar.

Agar dapat  diberlakukan  sebagai  alat  tukar  dalam  perekonomian,  uang harus memenuhi syarat-syarat (kriteria) sebagai berikut:

 

a. Syarat  Psikologis

Uang harus dapat memuaskan keinginan orang yang memilikinya.

b. Syarat  Teknis

Syarat teknis meliputi hal-hal sebagai berikut.

1) Tahan lama, artinya tidak mudah rusak.

2) Nilainya  stabil,  artinya  nilai  sekarang  sama  dengan  nilai  yang  akan datang.

3) Mudah dibawa, artinya apabila melakukan transaksi dalam jumlah yang besar,  pemilik  uang tidak  mengalami kesulitan dalam  membawa dan membayar.

4) Terdiri atas berbagai nilai nominal, artinya dapat dibagi-bagi sehingga dalam melakukan transaksi sekecil apa pun karena uang mempunyai nilai  pecahan.

5) Jumlahnya mencukupi dan tidak berlebihan, artinya jumlah uang yang beredar haruslah  mencukupi kebutuhan perekonomian (dunia usaha) dan tidak berlebihan agar nilainya tidak turun.

 

Sumber

http://boetarboetarzz.blogspot.com/2011/04/definisi-uang.html

http://duniabaca.com/sejarah-uang.html

http://ekonomikelasx.blogspot.com/2010/04/definisi-dan-kriteria-uang.html