Materi 2. Manusia dan Kebudayaan

2.1. Manusia

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. Manusia sebagai suatu keperibadian mengandung tiga unsur yaitu :
1. Id : Merupakan struktur keperibadian yang paling primitif dan tidak Nampak.
2. Ego : Bagian/sturktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id.
3. Superego : Struktur keperibadian paling akhir, muncul kira-kira pada usia lima tahun.

 

Unsur-unsur yang membangun manusia

1. Unsur Jasmani/Fisik: Merupakan unsur manusia yang secara riil dapat dilihat dan disentuh, merupakan unsur yang secara pasti dan absolut dimiliki oleh setiap manusia, unsur jasmani ini merupakan unsur yang paling mutlak yang harus dimiliki oleh setiap individu. Unsur jasmani berhubungan dengan kebutuhan fisik manusia, seperti makan, minum, pakaian dan lain-lain yang jika tidak di penuhi maka akan berakibat buruk bagi manusia itu.

2. Unsur Rohani: Merupakan kecenderungan manusia untuk melakukan hal-hal yang berbau spiritual atau kerohanian, merupakan suatu kebutuhan yang mengutamakan segala hal yang dapat memberikan ketenangan, perasaan kedekatan dengan Sang Pencipta, dan rasa aman bagi masing-masing individu yang menganutnya. Contohnya seperti agama atau keyakinan, ketenangan hati, rasa aman, rasa bahagia dan lain-lain.

 

 

2.2. Hakekat Manusia
1. Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
2. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.
3. Makhluk biokultural, yaitu makhluk hayati yang budayawi.
4. Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi).
5. Makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai kualitas dan martabat.

 

Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain

  • Manusia mempunyai akal dan pikiran.
  • Satu-satunya spesies yang dapat bertahan hidup dalam genus Homo (biologis).
  • Manusia menggunakan daya penggerak bipedalnya (dua kaki) yang sempurna. Dengan ada nya kedua kaki untuk menggerakan badan, kedua tungkai depan dapat digunakan untuk memanipulasi obyek menggunakan jari jempol (ibu jari) (biologis).
  • Manusia adalah satu-satunya hewan yang terbukti berteknologi tinggi (mental).
  • Manusia memiliki perbandingan massa otak dengan tubuh terbesar di antara semua hewan besar (mental).
  • Manusia dikaruniai budi sehingga mampu memahami, mengerti, dan memecahkan persoalan – persoalan yang ada di sekitarnya.

 

2.3. Keperibadian Bangsa Timur
Francis L.K Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dirinya keahlian didalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesustraan Cina klasik. Karya tulinya berjudul Psychological Homostatis Cina Klasik.

Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisis jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri.

Sampai sekarang, ilmu psikologi di Negara-negara Barat itu terutama mengembangkan konsep-konsep dan terori mengenai aneka warna isi jiwa, serta metode-metode dan alat-alat untuk menganalisis dan mengukur secara detail variasi isi jiwa individu itu. Sebaliknya, ilmu itu masih kurang mengembangkan konsep-konsep yang dapat menganalisis jaringan berkait antara jiwa individu dan lingkungan social budayanya.

Untuk menghindari pendekatan terhadap jiwa manusia itu, hanya sebagai subyek yang terkandung dalam batas individu yang terisolasi, maka Hsu telah mengembangkan suatu konsepsi, bahwa dalam jiwa manusia sebagai sebagai makhluk social budaya itu mengandung delapan daerah yang seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran kosentris sekitar diri pribadi.

2.4. Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan jika dikaji dari asal kata bahasa sansekerta berasal dari kata budhayah yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata colere, yang berarti mengolah tanah, jadi kebudayaan secara umum dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya” atau dapat pula diartikan “segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungannnya”.

2.5. Unsur-Unsur Kebudayaan

 

Tujuh Unsur Kebudayaan Universal

Menurut Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul Universal Catagories of Culture (dalam Gazalba, 1989: 10),  tujuh unsure kebudayaan yang bersifat universal (cultural universals) yaitu:

(1) sistem bahasa,

(2) sistem peralatan hidup dan teknologi,

(3) sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup,

(4) sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial,

(5) ilmu pengetahuan,

(6) kesenian,

(7) dan sistem kepercayaan atau agama.

Artinya, ketujuh unsur ini akan selalu kita temukan dalam setiap kebudayaan atau masyarakat di dunia. Unsur-unsur ini merupakan perwujudan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara eksistensi diri dan kelompoknya.

2.6. Wujud Kebudayaan

Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :

1. Kompleks gagasan, konsep dan pikiran manusia
Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.

2. Kompleks aktivitas :
Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain dari waktu ke waktu , selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.

3. Wujud sebagai benda :
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya.

2.7. Orientasi Nilai Budaya

 

Secara universal menyangkut 5 masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:

  • Hakekat hidup manusia (MH), hakekat hidup manusia dalam kebudayaan berbeda.
  • Hakekat karya manusia (MK), sudah jelas amat berbeda karena manusia memiliki kemampuan masing-masing.
  • Hakekat Waktu Manusia (WM), karena memiliki kemampuan masing-masing maka waktu yang diperlukan juga berbeda.
  • Hakekat alam Manusia (MA), adanya 2 anggapan yang berbeda antara yang pro eksploitasi dan ada yang kontra.
  • Hakekat Hubungan manusia (MN), mementingkan 2 hubungan manusia.

 

2.8. Perubahan Kebudayaan
Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh karena dia mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lainnya. Artinya, karena terjadi hubungan antar kelompok manusia didalam masyarakat. Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu :

  • Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri.
  • Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.

 

2.9. Kaitan Manusia dan Kebudayaan
Dalam Sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwi tunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya harus patuh kepada peraturan itu.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.

referensi dari:

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ilmu_budaya_dasar/bab2manusia_dan_kebudayaan.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia

http://mariaancela.blogspot.com/2010/10/tugas-ibd-manusia-dan-kebudayaan.html

http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_12.html

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100402193229AAmT6wy

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

http://www.anneahira.com/7-unsur-kebudayaan.htm

http://kuliahfilsafat.blogspot.com/2009/04/dialektika.html

 

special thanks to:

http://shintasumabrata.blogspot.com

http://18110432.blogspot.com